Banjir besar rendam dua desa di Mojokerto saat Lebaran, warga harus bertahan di tengah air, kejadian ini bikin pilu dan viral di medsos.
Lebaran kali ini menjadi momen yang pilu bagi warga dua desa di Mojokerto. Banjir besar melanda wilayah mereka, memaksa warga bertahan di tengah genangan air saat merayakan hari raya.
Dampak banjir membuat aktivitas warga terhenti, rumah dan jalan terendam, dan suasana Lebaran berubah penuh duka. Bagaimana kronologi banjir dan upaya evakuasi warga? Simak ulasan lengkapnya berikut ini hanya ada di Siaga Bencana.
Banjir Melanda Saat Hari Raya
Warga di dua desa di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur menghadapi cobaan berat saat momen Lebaran kali ini. Banjir besar merendam permukiman sejak malam takbiran dan terus berlanjut sampai Hari Raya Idul Fitri, membuat suasana bahagia berubah penuh pilu. Debit air mencapai ketinggian sekitar 1 meter atau setinggi perut orang dewasa di sejumlah titik.
Awal banjir dipicu oleh tanggul sungai yang jebol dan pintu air yang tersumbat sampah, sehingga aliran air sungai tidak optimal. Air sungai meluap dan merendam wilayah pemukiman warga. Situasi ini sangat mengejutkan karena terjadi bersamaan dengan hari besar keagamaan.
Sebelumnya ketika warga sibuk menyambut Idul Fitri dengan takbir, banyak keluarga justru harus berjibaku menghadapi banjir. Suasana sedih tampak di sejumlah rumah warga yang sudah terendam sejak Jumat malam.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026! Nonton Semua Pertandingan Tanpa Batas, lewat LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal. Ayo Download Sekarang!
Desa Jumeneng Terendam Air
Salah satu lokasi terdampak adalah Desa Jumeneng, Kecamatan Mojoanyar. Banjir mulai merendam permukiman sekitar pukul 19.00 WIB pada Jumat (20/3/2026), saat banyak keluarga tengah mempersiapkan perayaan Lebaran. Warga di Dusun Kuripan dan Balongcangkring merasakan dampak paling berat.
Di Dusun Kuripan, banjir merendam lebih dari 50 rumah dan sekitar 22 hektare sawah. Volume air cukup besar sehingga rumah‑rumah warga terendam sampai setinggi pinggang. Banyak keluarga memilih mengungsi sementara waktu untuk menjaga keselamatan anak dan orang tua.
Sementara di Dusun Balongcangkring, sekitar 90 rumah dan puluhan hektare lahan pertanian juga ikut terendam. Warga mengungsi ke balai desa setempat atau rumah kerabat agar bisa berteduh di tempat yang lebih aman dan kering.
Baca Juga: BMKG Ungkap Alasan Cuaca Makin Panas, Masyarakat Merasa Tak Nyaman
Dampak Banjir Di Desa Tinggar Buntut
Selain di Jumeneng, Desa Tinggar Buntut di Kecamatan Bangsal juga mengalami banjir sejak malam sebelumnya. Bupati Mojokerto menyatakan bahwa banjir terjadi karena pintu air di dam tersumbat sampah yang menutup aliran air keluar. Kondisi ini diperparah oleh jebolnya tanggul di sungai utama.
Warga di wilayah ini melaporkan aktivitas sehari‑hari terganggu karena banjir. Banyak yang tidak bisa keluar rumah, persiapan makanan Lebaran menjadi terhambat, dan beberapa fasilitas umum ikut terdampak genangan air.
Penanganan awal dilakukan dengan membersihkan sumbatan di pintu air bersama BPBD, dinas PUPR, dan masyarakat setempat. Upaya ini diharapkan bisa membantu memperlancar aliran air dan mempercepat surutnya banjir.
Evakuasi Dan Bantuan Warga
BPBD Kabupaten Mojokerto bersama aparat desa dan relawan bergerak membantu warga yang terjebak banjir. Evakuasi dilakukan agar warga yang rumahnya terendam bisa pindah ke tempat aman, seperti balai desa atau rumah keluarga yang tidak terdampak genangan.
Warga tua dan anak‑anak menjadi prioritas bantuan karena rentan terhadap kondisi cuaca buruk. Tim juga membantu memindahkan barang berharga warga agar tidak rusak akibat air yang terus naik.
Selain itu, rencana penanganan jangka panjang termasuk perbaikan tanggul dan sistem drainase sedang dipertimbangkan oleh pemerintah daerah. Harapannya, kejadian serupa bisa diantisipasi di masa mendatang agar tidak mengulang penderitaan warga.
Harapan Dan Tantangan Ke Depan
Warga berharap banjir segera surut agar aktivitas Lebaran dan rutinitas sehari‑hari bisa kembali normal. Banyak keluarga yang berharap bantuan logistik atau dukungan dari pihak berwenang untuk memenuhi kebutuhan dasar selama banjir berlangsung.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya perawatan tanggul sungai dan sistem pengelolaan air untuk mencegah banjir besar, terutama saat musim hujan atau hari‑hari besar ketika mobilisasi masyarakat tinggi.
Pemantauan cuaca serta koordinasi antarlembaga diperlukan agar tanggul atau drainase yang rawan rusak dapat diperbaiki sebelum banjir datang. Hal ini menjadi tugas bersama antara pemerintah dan masyarakat di daerah rawan bencana ini.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari lintasjatim.com

