Longsor di Kintamani menimpa pekerja yang sedang memotong bambu, menimbun tubuhnya, Tim evakuasi segera dikerahkan.
Tim evakuasi segera dikerahkan untuk menyelamatkan korban. Kondisi medan yang curam dan material longsor yang berat menjadi tantangan utama dalam proses penyelamatan.
Peristiwa Siaga Bencana ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan bagi pekerja di daerah rawan longsor, terutama saat musim hujan atau di area lereng yang tidak stabil.
Longsor Di Desa Suter Menimpa Pekerja Bambu
Seorang pria bernama Nyoman Buda tertimbun longsor di Desa Suter, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, pada Jumat (13/2/2026). Buda dikenal sebagai tukang potong-angkut bambu yang bekerja di tebing curam desa itu.
Longsor terjadi sekitar pukul 15.30 Wita, tepat saat Buda tengah memotong bambu di dasar tebing. Tanah setinggi sekitar 90 meter tiba-tiba runtuh menimbun lokasi kerja Buda, meninggalkan rekannya yang panik dan bingung.
Hingga Sabtu (14/2/2026), nasib Buda belum diketahui. Tim penyelamat dan warga setempat terus berupaya menemukan korban yang tertimbun tanah dan material longsoran, meskipun kondisi medan yang sulit menjadi kendala utama.
Kronologi Kejadian Longsor
Menurut Kepala Pelaksana BPBD-Damkar Kabupaten Bangli, I Wayan Wardana, Buda memotong bambu bersama dua rekannya, Adit dan Wayan Dayuh. Setelah dipotong, bambu dibawa ke bak truk yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi potong.
Saat Adit dan Dayuh memuat bambu ke truk, Buda tetap bekerja sendirian di dasar tebing. Tidak lama kemudian, tanah longsor menimpa area tersebut, menutup Buda di bawah timbunan tanah.
Kejadian itu membuat Adit dan Dayuh panik. Mereka segera menghubungi aparat desa dan dusun. Informasi pun tersebar secara cepat ke seluruh warga sekitar sehingga warga segera bergerak menuju lokasi.
Baca Juga: BNPB Susun Peta Jalur Mudik Aman: Strategi Mitigasi Bencana Saat Libur Lebaran
Upaya Evakuasi Awal Warga
Sejumlah warga dari empat dusun di sekitar lokasi longsor langsung mencoba mengevakuasi Buda. Mereka menggali tanah longsoran dengan peralatan seadanya dan tenaga manual.
Sayangnya, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena timbunan tanah sangat tebal dan rawan longsor susulan. Keselamatan warga menjadi perhatian utama sehingga mereka berhati-hati dalam melakukan evakuasi.
Warga akhirnya menunggu bantuan dari pihak berwenang. Meskipun demikian, mereka tetap membantu menyiapkan jalur akses, logistik, dan mendampingi tim penyelamat agar operasi bisa berjalan lancar.
Penggunaan Alat Berat Dan Anjing Pelacak
Untuk mempercepat evakuasi, Dinas PUPR Kabupaten Bangli menyiapkan alat berat berupa ekskavator. Alat ini penting untuk menembus tanah yang padat dan menyingkirkan material longsor.
Selain itu, Polda Bali menerjunkan anjing pelacak untuk membantu mendeteksi posisi Buda. Anjing pelacak digunakan karena lokasi longsor cukup luas dan sulit dijangkau secara manual.
Operasi pencarian dilakukan secara terpadu mulai pukul 09.00 Wita dengan koordinasi antara BPBD, Damkar, Dinas PUPR, dan pihak kepolisian. Setiap langkah dilakukan dengan hati-hati demi keselamatan korban dan tim.
Harapan Keluarga Dan Dukungan Warga
Keluarga Buda terus berada di lokasi, menunggu kabar tentang korban sambil berdoa agar ia segera ditemukan dalam kondisi selamat. Mereka dibantu warga setempat dalam menyediakan makanan, minuman, dan perlengkapan untuk tim penyelamat.
Warga juga memberikan dukungan moral bagi keluarga dan tim pencarian. Kehadiran mereka membantu menjaga semangat tim, terutama saat evakuasi berjalan lambat karena kondisi tanah yang sulit.
Kejadian ini menjadi peringatan bagi masyarakat yang bekerja di tebing dan lokasi rawan longsor. Waspada terhadap kondisi lingkungan dan kesiapan alat keselamatan menjadi hal penting untuk mencegah tragedi serupa.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com
