Tanah gerak melanda Gunungsari, Rembang, merusak 5 rumah, warga waspada, pemerintah setempat siaga bencana segera turun tangan.
Bencana ini terjadi secara tiba-tiba dan memicu kepanikan di lingkungan sekitar. Kerusakan rumah menjadi perhatian utama, sementara warga diimbau tetap siaga dan waspada terhadap kemungkinan tanah gerak susulan.
Pemerintah setempat dan aparat tanggap darurat langsung turun ke lokasi untuk menilai dampak dan memastikan keselamatan warga. Simak informasi lengkap tentang kejadian dan langkah penanganan bencana berikut ini hanya di Siaga Bencana.
Tanah Gerak Melanda Gunungsari, Rembang
Fenomena tanah gerak terjadi di Dukuh Gobok, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, merusak lima rumah warga. Dua di antaranya mengalami kerusakan parah, termasuk dapur dan kamar mandi yang roboh total.
Pergerakan tanah dilaporkan mencapai panjang sekitar 50 meter dengan kedalaman mencapai dua meter. Bagian belakang rumah milik warga menjadi paling terdampak, setelah sebelumnya muncul retakan-retakan di permukaan tanah.
Dua rumah yang paling parah milik Sunarto dan Umbartono. Struktur tembok belakang roboh, membuat aktivitas sehari-hari terganggu dan perabotan di dalam rumah ikut rusak.
Dampak Langsung Pada Warga
Chori’, istri Sunarto, menceritakan retakan tanah mulai muncul awal Februari. Dampaknya semakin parah setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada 7 hingga 9 Februari.
Kondisi memburuk saat hujan. Sebelumnya belum pernah terjadi seperti ini, ujar Chori, saat ditemui di lokasi, Jumat (27/2/2026). Ia kini menata sisa material bangunan yang ambruk di rumahnya.
Selain rumah, perabotan seperti lemari ikut ambrol karena tanah belakang rumah ambles lagi. Bagian dapur dan area cuci sudah tidak bisa digunakan, sehingga aktivitas sehari-hari dipindahkan ke bagian depan rumah.
Baca Juga: Heboh! Sungai Baru Tiba-tiba Muncul Di Lokasi Longsor Cisarua
Retakan Tanah Dan Kekhawatiran Warga
Warga setempat, Yusman, mengonfirmasi fenomena tanah gerak baru pertama kali terjadi di Dukuh Gobok. Retakan awalnya kecil, namun melebar seiring hujan lebat.
Mulai 5–7 Februari sudah ada retak kecil. Setelah hujan, tanah ambles semakin parah, kata Yusman. Ia mengaku khawatir jika hujan kembali turun, pergerakan tanah bisa meluas dan mengancam rumah lain.
Fenomena ini membuat warga waswas dan harus meningkatkan kewaspadaan. Beberapa warga memilih tetap tinggal di rumah meski bagian belakang sudah rusak, karena takut kehilangan rumah sepenuhnya.
Penanganan BPBD Dan Kerugian
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, menjelaskan curah hujan tinggi menjadi pemicu utama tanah bergerak. Tanah yang labil dan gembur membuat struktur rumah terdampak parah.
Asesmen awal menunjukkan total kerugian sekitar Rp192 juta. Rumah Sunarto rusak dua meter, diperkirakan kerugian Rp90 juta. Rumah Umbartono rusak kamar mandi dan kandang sekitar Rp50 juta, sedangkan tiga rumah lain mengalami retakan dan kerusakan ringan hingga sedang.
BPBD telah mendata warga terdampak dan berkoordinasi dengan pemerintah desa serta OPD terkait untuk penanganan lanjutan. Lima keluarga terdampak menerima bantuan kebutuhan pokok dari Dinas Sosial setempat sebagai penanganan darurat.
Waspada Dan Mitigasi Bencana
BPBD mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras. Pergerakan tanah masih berpotensi meluas, sehingga warga harus tetap waspada.
Meski sebagian warga memilih bertahan di rumah, mereka diingatkan untuk menghindari area belakang yang rusak dan memprioritaskan keselamatan keluarga.
Pemerintah daerah terus memantau situasi dan menyiapkan langkah mitigasi, termasuk pengamanan area terdampak, serta evaluasi kemungkinan relokasi sementara jika tanah bergerak kembali. Warga juga diminta melaporkan kondisi terbaru untuk mempermudah penanganan bencana.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari youtube.com
- Gambar Kedua dari detik.com


