Kabupaten Sukabumi tetap berstatus Awas, Kondisi pesisir dipantau ketat, warga diminta waspada terhadap potensi bencana.
Kawasan pesisir Kabupaten Sukabumi masih berada dalam status ‘Awas’, menandakan potensi risiko tinggi yang harus diperhatikan warga. Peringatan Siaga Bencana ini dikeluarkan untuk memastikan keselamatan masyarakat dan mendorong kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana alam, seperti abrasi, banjir rob, atau cuaca ekstrem.
Pemantauan intensif terus dilakukan pihak berwenang agar setiap ancaman bisa diantisipasi lebih cepat, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga keselamatan di pesisir.
Cuaca Ekstrem Landa Sukabumi, Status Awas Ditetapkan
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tengah berada dalam kondisi cuaca ekstrem yang mengkhawatirkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi menetapkan wilayah ini dalam status merah atau awas akibat potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung selama beberapa hari ke depan.
Status ini menandakan tingkat bahaya tertinggi yang harus diwaspadai masyarakat. Pantauan di lapangan menunjukkan situasi pesisir yang cukup mencekam.
Di kawasan Gadobangkong, Palabuhanratu, langit tampak gelap diselimuti awan tebal. Angin kencang bertiup terus-menerus disertai suara deburan ombak yang menghantam garis pantai.
Kondisi ini memperlihatkan betapa seriusnya ancaman cuaca ekstrem yang sedang berlangsung.
Gelombang Tinggi dan Angin Kencang Ancam Pesisir
Berdasarkan data BMKG, perairan Sukabumi mengalami gelombang tinggi dengan ketinggian mencapai 2,5 hingga 4 meter. Kecepatan angin tercatat mencapai 36 knot atau sekitar 66 kilometer per jam.
Situasi ini sangat berbahaya, terutama bagi aktivitas laut dan kawasan pesisir. Di beberapa titik pantai, spanduk peringatan telah dipasang untuk melarang masyarakat mendekati area berbahaya.
Bagan apung milik nelayan terlihat terombang-ambing akibat kuatnya gelombang. Kondisi ini memperlihatkan bahwa aktivitas melaut sangat berisiko dan sebaiknya ditunda sementara waktu demi keselamatan.
BMKG menyebutkan bahwa Kabupaten Sukabumi menjadi satu-satunya wilayah di Jawa Barat yang masuk kategori “awas” pada periode 21 hingga 23 Januari 2026. Hal ini menunjukkan potensi cuaca ekstrem di wilayah tersebut jauh lebih tinggi dibanding daerah lainnya.
BPBD Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Menanggapi situasi tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mengabaikan potensi bahaya. Ia menekankan bahwa kondisi cuaca saat ini sangat dinamis dan dapat berubah secara tiba-tiba.
Menurutnya, ancaman yang mungkin terjadi meliputi hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang. Selain itu, wilayah pesisir juga berpotensi mengalami genangan air akibat pasang laut yang tinggi.
Eki meminta masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan, untuk mengamankan barang-barang penting dan menghindari aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak. Warga yang tinggal di dekat sungai maupun pesisir diimbau lebih waspada terhadap potensi luapan air.
Baca Juga: BMKG! Hujan Lebat Di Barru–Parepare Malam Ini Potensi Meluas Ke Luwu Timur
Nelayan Diminta Tunda Melaut, Warga Pantau Informasi Resmi
Khusus bagi nelayan dan warga yang biasa beraktivitas di laut, BPBD mengingatkan agar tidak memaksakan diri melaut selama kondisi cuaca belum membaik. Gelombang tinggi dan angin kencang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi terbaru dari BMKG, BPBD, maupun pemerintah daerah. Informasi resmi menjadi acuan penting dalam mengambil keputusan, terutama terkait aktivitas di luar ruangan.
BMKG memperkirakan cuaca ekstrem ini masih berpotensi berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana.
Dengan kewaspadaan bersama, diharapkan masyarakat dapat terhindar dari ancaman yang lebih besar akibat kondisi cuaca yang tidak menentu ini.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari antaranews.com

