Longsor menerjang sekolah di Trenggalek, dua kelas dikosongkan dan aktivitas belajar siswa terhenti mendadak.
Suasana belajar yang semula berjalan normal mendadak berubah mencekam ketika longsor menghantam sebuah sekolah di Trenggalek. Dua ruang kelas terpaksa dikosongkan demi keselamatan siswa dan guru. Bagaimana kondisi bangunan saat ini dan seperti apa langkah penanganannya? Simak selengkapnya di Siaga Bencana.
Hujan Deras Picu Longsor Di Kecamatan Munjungan
Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, sejak malam hingga dini hari menyebabkan kondisi tanah menjadi jenuh air. Lereng yang berada di sekitar Desa Ngulungwetan pun tidak mampu lagi menahan beban, hingga akhirnya terjadi longsor yang membawa material tanah, lumpur, dan bebatuan ke area di bawahnya.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 WIB saat sebagian warga masih berada di rumah masing-masing. Suara gemuruh dari arah tebing sempat mengejutkan masyarakat, terutama karena lokasi longsor berada tidak jauh dari fasilitas umum dan permukiman penduduk.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini menimbulkan kekhawatiran karena berdampak langsung pada bangunan sekolah dasar yang berada di sekitar titik longsoran. Aparat desa bersama warga segera melakukan pengecekan untuk memastikan situasi terkendali.
Dua Ruang Kelas SD Terdampak Material
Material longsor diketahui menimpa bagian belakang bangunan SD Negeri 2 Ngulungwetan. Dua ruang kelas terdampak cukup parah karena tertutup timbunan tanah dan puing yang terbawa dari atas tebing.
Lumpur tebal menempel di dinding dan merembes hingga ke bagian fondasi bangunan. Beberapa titik terlihat mengalami retakan yang berpotensi membahayakan jika ruangan tetap digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Pihak sekolah bergerak cepat dengan memastikan seluruh siswa dan guru berada dalam kondisi aman. Beruntung, longsor terjadi sebelum aktivitas belajar dimulai sehingga tidak ada korban dari kalangan pelajar maupun tenaga pendidik.
Baca Juga: Darurat Banjir di Nunukan, 8 Kecamatan Terendam Akibat Aliran Air Dari Malaysia
Asesmen BPBD Dan Keputusan Pengosongan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menjelaskan bahwa tim segera melakukan asesmen di lokasi untuk menilai tingkat kerusakan dan potensi risiko lanjutan. Pemeriksaan meliputi kondisi struktur bangunan serta kestabilan tebing di belakang sekolah.
Ia menyampaikan pada Sabtu (28/2/2026) bahwa hasil penilaian menunjukkan dua ruang kelas direkomendasikan untuk dikosongkan sementara waktu. Area sekitar bangunan dinilai masih rawan karena tanah di bagian atas belum sepenuhnya stabil.
Keputusan tersebut diambil demi keselamatan seluruh warga sekolah. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dialihkan ke ruangan lain yang lebih aman sambil menunggu proses pembersihan dan evaluasi lanjutan selesai dilakukan.
Upaya Penanganan Dan Pembersihan Lokasi
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, aparat desa, relawan, dan warga sekitar langsung melakukan kerja bakti membersihkan material longsor. Tanah dan bebatuan dipindahkan secara manual menggunakan sekop, cangkul, serta alat sederhana lainnya.
Akses menuju lokasi yang terbatas membuat penggunaan alat berat belum dapat dilakukan secara maksimal. Meski demikian, semangat gotong royong masyarakat membantu mempercepat proses pembersihan agar bangunan bisa segera diperiksa lebih detail.
Selain membersihkan timbunan, petugas juga memasang tanda peringatan di sekitar area terdampak. Langkah ini bertujuan mencegah siswa atau warga mendekati lokasi yang masih berpotensi berbahaya.
Kewaspadaan Dan Mitigasi Di Musim Hujan
Wilayah Munjungan dikenal memiliki kontur tanah berbukit yang cukup rentan terhadap bencana tanah longsor, terutama saat curah hujan tinggi berlangsung dalam waktu lama. Kondisi geografis ini menuntut kesiapsiagaan yang lebih serius dari berbagai pihak.
BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lereng atau tebing. Tanda-tanda seperti retakan tanah, pohon miring, atau aliran air yang berubah arah perlu segera dilaporkan kepada aparat setempat.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama di tengah musim penghujan. Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, pihak sekolah, dan masyarakat, diharapkan aktivitas belajar di SD Negeri 2 Ngulungwetan dapat kembali normal setelah kondisi benar-benar dinyatakan aman dan stabil.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari jatim.antaranews.com

